Kamis, 23 Desember 2010

Peradilan Islam

Pada 1400 terakhir sejarah negara Islam, dikenal dengan administrasi peradilannya, dan kemampuannya melindungi hak-hak rakyat dan hal inilah yang sangat berbeda dengan seluruh aspek kehidupan bangsa lainnya baik secara pribadi maupun politik.

Ada 2 orang yang bertanggung jawab dalam mengimplementasikan Islam dalam berbagai hal yakni:

Khalifah dan Qadhi (hakim). Khalifah menjalankan hukum-hukum Islam dan menerapkannya kepada seluruh rakyat, sedangkan hakim mengambil putusan-putusan secara Islami untuk kondisi-kondisi yang berbeda berdasarkan sumber-sumber (seperti Al- Qur`an, As Sunnah dan segala sesuatu yang berasal dari keduannya) dan menggunakannya.

Karena itu peradilan merupakan salah satu pilar yang fundamental dalam negara Islam dan diatas hal inilah sistem pemerintahan disandarkan sebagai bagian Implementasi Islam dalam kehidupan politik. Dalam negara Islam telah ada sebuah peradilan yang senantiasa menjalankan keadilan dan menghukum siapa saja yang patut dihukum ditengah-tengah masyarakat untuk memastikan bahwa Islam telah ditaati secara terus-menerus. Sistem peradilan ini tidak ada yang bertentangan dengan Islam malah ia berasal dari aqidah Islam dan membentuk satu kesatuan yang padu dalam pandangan hidup Islam, ditambah dengan Sistem Islam yang lain seperti Sistem Ekonomi (Iqtisad), dan ritual (ibadah) yang saling menyempurnakan satu sama lain.

Tujuan Peradilan

Dasar dibentuknya Peradilan memiliki 3 prinsip yaitu:
1.Bahwa penerapan hukum-hukum Islam dalam setiap kondisi adalah wajib.
2.Bahwa dilarang mengikuti syari’ah lain selain Islam.
3.Syari’ah selain Islam adalah kufur dan batil (taghut).

Dengan kerangka seperti ini, sistem Peradilan Negara Islam dijalankan dan Berdasarkan
pemahaman ini maka definisi Peradilan dibangun berdasarkan syari’ah sehingga definisi dan
tujuan Peradilan adalah memberikan putusan-putusan yang sah untuk menetapkan berbagai
pendapat yang muncul terhadap hukum Allah dalam berbagai situasi, dengan kewenangan
untuk memaksa mereka.

Bukti keabsahan Peradilan

Landasan Sistem Peradilan dan hukum-hukumnya berasal dari Al-Qur`an dan As-Sunnah.
Mengenai Al-Qur`an, Allah SWT Berfirman dalam beberapa surat , diantaranya dalam QS. 4:105 dan QS. 5:48. Ayat-ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa adalah sah untuk menghukumi antar manusia dan bahkan wajib melaksanakan hal tersebut, yaitu dengan hanya merujuk kepada sistem Allah SWT. Mengenai As-Sunnah, Rosululloh SAW sendiri memimpin Sistem Peradilan ini dan beliaulah yang menghukumi umat. Muslim menceritakan hal yang disampaikan Aisyah (ra), istri Rosululloh SAW bahwa beliau berkata, Sa’ad Ibn Abi Waqqash dan Abd Zama’a berselisih satu sama lain mengenai seorang anak laki-laki. Sa’ad berkata: “Rosululloh SAW, adalah anak dari saudaraku Utbah Ibn Abi Waqqash yang secara implisit dia menganggap sebagai anaknya. Lihatlah kemiripan wajahnya.”. Abd Ibn Zama’a
berkata: “Rosululloh, dia adalah saudaraku karena dia lahir diatas tempat tidur ayahku dari hamba sahayanya. Rosululloh lalu melihat persamaan itu dan beliau mendapati kemiripan yang jelas dengan Utbah. Tapi beliau bersabda, “Dia adalah milikmu wahai Abd Ibn Zama’a, karena seorang anak akan dihubungkan dengan seseorang yang pada tempat tidurnya ia
dilahirkan, dan hukum rajam itu adalah untuk pezina.” Hal ini membuktikan bahwa Rosululloh SAW menghukumi umat dan bahwa keputusannya memiliki otoritas untuk dilaksanakan.

Bukti-bukti lain tentang Peradilan dalam As Sunnah, adalah :

1.Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibn Majah meriwayatkan: Buraidah berkata bahwa
Rasulullah SAW bersabda: “Hakim itu ada 3, 2 diantaranya akan masuk api neraka dan satu
akan masuk surga. Seseorang yang mengetahui kebenaran dan menghakiminya dengan
kebenaran itu ?dialah yang akan masuk surga, seseorang yang mengetahui kebenaran
namun tidak memutuskan berdasarkan kebenaran itu, dia akan masuk neraka. Yang lain
tidak mengetahui kebenaran dan memutuskan sesuatu dengan kebodohannya, dan dia akan
masuk neraka”.

2.Ahmad dan Abu Daud mengisahkan: Ali ra. Berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Wahai Ali, jika 2 orang datang kepadamu untuk meminta keadilan bagi keduanya, janganlah
kamu memutuskan sesuatu dari orang yang pertama hingga kamu mendengarkan perkataan
dari orang kedua agar kamu tahu bagaimana cara memutuskannya (menghakiminya).”

3.Bukhori, Muslim dan Ahmad meriwayatkan Ummu Salamah berkata: “Dua laki-laki telah
berselisih tentang warisan dan mengdatangi Rasulullah SAW, tanpa membawa bukti. Beliau
saw bersabda: kalian berdua membawa perselisihan kalian kepadaku, sedang aku adalah
seseorang yang seperti kalian dan salah seorang diantara kalian mungkin berbicara lebih
fasih, sehingga aku mungkin menghakimi berdasarkan keinginannya. Dan jika aku
menghukumnya dengan sesuatu yang bukan menjadi miliknya dan aku mengambilnya
sebagai hak saudaranya maka ia tidak boleh mengambilnya karena apapun yang aku berikan
padanya akan menjadi serpihan api neraka dalam perutnya dan dia akan datang dengan
menundukkan lehernya dihari pembalasan. Kedua orang itu menangis dan salah satu dari
mereka berkata, aku berikan bagianku pada saudaraku. Rasulullah SAW bersabda: “Pergilah
kalian bersama-sama dan bagilah warisan itu diantara kalian dan dapatkan hak kalian berdua
serta masing-masing dari kalian saling mengatakan, “Semoga Alloh mengampunimu dan
mengikhlaskan apa yang dia ambil agar kalian berdua mengdapat pahala”.

4.Baihaqi, Darqutni dan Thabrani berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang diuji
Alloh dengan membiarkannya menjadi seorang hakim, maka janganlah dia membiarkan satu
pihak yang berselisih itu duduk didekatnya tanpa membawa pihak lainnya untuk duduk
didekatnya. Dan dia harus takut pada Alloh atas persidangannya, pandangannya terhadap
keduannya dan keputusannya pada keduanya. Dia harus berhati-hati agar tidak
merendahkan yang satu seolah-olah yang lain lebih tinggi, dia harus berhati-hati untuk tidak
menghardik yang satu dan tidak kepada yang lain dan diapun harus berhati-hati terhadap
keduanya.”

5.Muslim, Abu Daud dan An Nasa’i berkata: Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah SAW mengadili

manusia dengan sumpah dan para saksi.”

6.Imam Mawardi dalam etika Peradilan Vol.1.p.123, “Rasulullah SAW menunjuk hakim dalam

Negara Islam, diantaranya adalah Imam Ali, Mu’adz bi Jabal dan Abu Musa Al Ash’ari”.

7.Muslim mengabarkan Abu Hurairah berkata: “Rasulullah SAW sedang melewati pasar dan
beliau melihat seseorang sedang menjual makanan. Dia meletakkan tangannya diatas
sepiring kurma dan ditemukan kurma-kurmanya basah dibagian bawahnya. Beliau bertanya,
apa ini” Dia menjawab, hujan dari surga Ya Rasululloh. Rasulullah SAW bersabda, “Kamu
harus meletakkannya diatas, barangsiapa mencuri timbangan bukan dari golongan kami”.

Semua hadist diatas secara jelas menyatakan kebenaran Pengadilan dan menjelaskan dari

berbagai sudut pandang, dasar-dasar Sistem Peradilan dalam Negara Islam antara lain:

1.Hadist-hadist tersebut menyatakan bahwa seseorang termotivasi menjadi hakim

dikarenakan pahala terhadap hakim tersebut.

2.Hadist-hadist diatas membuat takut terhadap orang-oarng yang ingin menjadi hakim apabila

mereka tidak mampu.

3.Hadist-hadist diatas menunjukkan kepada kita sumber perselisihan dan sumber
Peradilannya misalnya Rasulullah SAW mengatakan kepada Ali untuk tidak mengadili
siapapun hingga ia mendengarkan pernyataan dari kedua belah pihak. Hal itu menunjukkan
bahwa kita harus memiliki sebuah pengadilan dimana kedua pihak duduk bersama dan
bahwa seorang hakim harus mendengarkan keduanya. Beliau menyatakan bahwa takutlah
kepada Alloh pada saat engkau melihat mereka, berbicara pada mereka dan pada saat
engkau menghukum mereka.

4.Hadist-hadist tersebut menunjukkan adanya dasar penunjukkan seorang wakil.
Dikarenakan pernyataan, “Hati-hatilah terhadap mereka yang memiliki lidah yang fasih,
sehingga ia boleh jadi menunjuk seseorang untuk berbicara atas namamu”.

5.Hadist-hadist tersebut juga membuktikan bahwa Rasulullah SAW mengambil sumpah-

sumpah dan saksi-saksi, bahwa hal tersebut dapat digunakan pembuktian berbagai kasus.

6.Mereka (hadist-hadist itu) menyatakan macam-macam hakim, misalnya Qadhi Muhtasid

yang menegakkan keadilan dan kebenaran yang terjadi dipasar.

7.Hadist-hadist diatas juga menyatakan kebenaran cara penunjukkkan para hakim seperti

pernyataan Imam Mawardi, Imam Ali dan Mu’adz bin Jabal.

SISTEM PERADILAN ISLAM

Fakta Tentang Sistem Peradilan

Dalam peradilan Hukum Islam, hanya ada satu hakim yangbertanggung jawab terhadap
berbagai kasus pengadilan. Dia memiliki otoritas untuk menjatuhkan keputusan berdasarkan
Al-Qur`an dan As-Sunnah. Keputusan-keputusan lain mungkin hanya bersifat menyarankan
atau membantu jika diperlukan (yang dilakukan oleh hakim ketua).

Tidak ada sistem dewan juri dalam Islam. Nasib seorang tidak diserahkan kepada tindakan
dan prasangka ke-12 orang yang bisa saja keliru karena bukan saksi dalam kasus tersebut
dan bahkan mungkin pelaku kriminal itu sendiri!.Hukumanhukuman dalam Islam hanya bisa
dilakukan apabila perbuatantersebut terbukti 100% secara pasti dan kondisi yang relevan
dapatditemukan (misal ada 4 saksi untuk membuktikan perzinahan) jika masih adakeraguan
tentang peristiwa-peristiwa tersebut maka seluruh kasus akan
dibuang.

Ada 3 macam hakim dalam Islam, yaitu:

1. Qodli ‘Aam: bertanggung jawab untuk menyelesaikan perselisihan ditengah-tengah
masyarakat, misalnya masalah sehari-hari yang terjadi didarat, tabrakan mobil, kecelakaan-
kecelakaan, dsb.

2. Qodli Muhtasib: bertanggung jawab menyelesaikan perselisihan yang timbul diantara
ummat dan beberapa orang, yang menggangu masyarakat luas, misalnya berteriak dijalanan,
mencuri di pasar, dsb.

3. Qodli Madzaalim: yang mengurusi permasalahan antara masyarakat dengan pejabat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar