Senin, 15 Juni 2009

Oprasi Selaput Dara Menurut Hukum Islam

Pendahuluan

A. Pengertian
Masih sangat kental dalam budaya masyarakat kita bahwa selaput dara adalah salah satu penanda keperawanan atau virginitas seorang wanita.

Selaput dara adalah selaput tipis yang ada di dalam kemaluan wanita, yang oleh masyarakat sering disebut keperawanan, karena jika selaput dara tersebut belum pecah atau sobek menunjukkan bahwa wanita tersebut masih perawan, dan belum pernah melakukan hubungan seksual dengan seorang laki-laki, walaupun tanda ini tidaklah mutlak, karena ada sebagian wanita yang tidak pecah selaput daranya saat melakukan hubungan seksual.

Operasi selaput dara adalah operasi untuk memperbaiki selaput dara yang rusak atau mengembalikannya kepada tempat semula. Dan ini termasuk masalah kontemporer yang belum ditemui oleh para ulama pada masa lalu. Untuk memudahkan pemahaman, maka pembahasaan ini, kita bagi menjadi beberapa bagian, sesuai dengan penyebab hilangnya selaput dara.

Operasi pengembalian keperawanan wanita dalam istilah bahasa Arab adalah ritqu ghisyya al-bikarah. Secara harfiah, ritqu dapat diartikan menjadi “menempelkan atau merapatkan”.

Sedangkan ghisyya al-bikarah berarti selaput clitoris atau selaput dara yaitu permukaan daging tipis dan lembut yang terletak pada kelamin wanita. Ia disebut juga dengan selaput keperawanan (udzrah). Perawan adalah “wanita yang belum dijima’ oleh laki-laki”.
Karena itu secara jumlah, kalimat ritqu ghisyya al-bikarah dapat diartikan menjadi “mengembalikan selaput dara atau selaput keperawanan yang telah sobek atau rusak karena sebab tertentu dengan cara dioperasi.

Selaput dara (hymen); berhubungan dengan pernikahan dalam istilah Yunani. Dengan huruf h kecil, sebuah lagu perkawinana atau puisi dari Yunani berjudul hymen, memiliki arti “sebuah membran/selaput” dan lewat Indo-Eropa disebut syumen. Istilah ini terkait dengan kata “seam” atau lapisan.

B. Manfaat dan Mudharat yang Timbulkan Akibat Oprasi Selaput Dara
a. Sisi Positif Dilakukannya Oprasi Selaput Dara
Jika kita melihat kepada tindakan ini dari segi pengaruhnya, dengan mempertimbangkan adapt dan kebiasaan yang memberikan reaksi jika diketahui sobeknya keperawanan, ada beberapa manfaat oprasi selaput dara yang sesuai syariat :

1. Untuk menutupi aib
Menutupi aib sendiri merupakan tujuan syariat yang mulia dan telah ditekankan dalam beberapa nash dari sunnah Nabi, diantaranya beliau bersabda :


“Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, kecuali Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat”. (HR. Muslim)

2. Melindung keluarga
Melindungi keluarga yang akan dibentuk kemudian hari dari hal-hal yang menyebabkan kehancuran dan menimbulkan perasangka serta hilangnya kepercayaan antara keduanya.


3. Pencegahan dari perasangka buruk
Menyebarkan prasangka baik dalam masyarakat dan menutup pintu dimana jika ia dibiarkan terbuka, akan ada kemugkinan darinya prasangka buruk ke dalam hati serta tenggelam dalam apa yang telah di haramkan Alllah, dan hal tersebut terkadang menyebabkan pada kezhaliman atas gadis-gadis yang tidak bersalah.

Menyebarkan perasangka baik diantara orang-orang mukmin adalah salah satu tujuan syariat, Allah bersabda :



“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah perbuatan banyak berburuk sangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain”. (Al-Hujurat : 12)

4. Mewujudkan keadilan antara pria dan wanita
Para fuqaha , adanya persamaan hal yang menetapkan perbuatan zina antara pria dan wanita secara global. Dan mayoritas mereka berpendapat bahwa persamaan tersebut tanpa pengecualian.

5. Mendidik masyarakat
Pengaruh yang mendidik secara umum adalah bahwa sebuah kemaksiatan jika ditutupi, bahayanya akan terbatas di wilayah yang sempit sekali. Bias jadi terbatas pada sang pelaku jika ia tidak bertaubat dan jika ia bertaubat maka hilanglah pengaruhnya . tetapi apabila hal tersebut tersebar dalam masyarakat, maka pengaruh buruknya akan bertambah dan akan berkuranglah rasa segan terhadap orang yang melakukannya.




b. Sisi Negatif Dilakukannya Oprasi Selaput Dara
1. Penipuan
Apabila Allah telah berfirman kepada orang-orang yang beriman agar tidak menikahi wanita pezina atau yang musyrik kecuali oleh lelaki sesame pezina atau musyrik. Allah berfirman :



“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin”. (An-Nuur : 3)

Beberapa fuqaha berpendapat bahwa suami mempunyai hak untuk membatalkan pernikahannya jika sebelumnya dia telah mensyaratkan keperawanan sang istri dan ternyata terjadi sebaliknya. Dalam hal ini, berarti dokter telah menyepelekan hak sang suami, dan menipunya dengan keperawanan palsu sehingga persyaratan tersebut terwujud dalam diri sang istri.

Adanya penipuan dari pihak perempuan kepada calon suami. Sekiranya si perempuan dulunya adalah termasuk yang berakhlak buruk dan sudah tidak perawan lagi, bisa saja dia melakukan operasi selaput dara untuk mengelabuhi calon suaminya. Padahal, seorang laki-laki yang baik, seyogyanya menikah dengan perempuan yang baik-baik juga. Dan seorang pezina juga tidak menikah, melainkan dengan sesama pezina pula. Dalam hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam disebutkan,
مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا . (رواه مسلم وأحمد)
“Barangsiapa yang menipu kami, maka dia bukan golongan kami.” (HR.Muslim dan Ahmad)


2. Mendorong perbuatan keji
Penambilan keperwanan mungkin mendorong berkembangnya perbuatan keji dalam masyarakat, karena dengan itu rasa segan dan rasa tanggung jawab pada diri seorang gadis akan hilang. Dimana biasanya rasa seperti itu bisa mencegahnya, karena ia mengetahui bahwa perbuatan itu akan berpengaruh dan membekas pada tubuh dan akan mengakibatkan hukuman dari masyarakat.

Mendorong para wanita nakal yang pada dasarnya senang melakukan perbuatan zina untuk terus melakukan perbuatan keji tersebut. Sebab, dia tahu, jika suatu saat keperawanannya dibutuhkan, entah untuk menampik tuduhan masyarakat bahwa dia telah berzina, atau untuk menghindarkan diri dari hukuman cambuk, atau untuk membuktikan pada suaminya bahwa dia masih perawan; dia bisa melakukan operasi pengembalian selaput dara.

3. Membuka aurat
Tersingkapnya aurat yang paling vital milik perempuan di hadapan dokter. Pada dasarnya, selain suami dan istri, tidak ada yang boleh melihat kemaluan orang lain. Baik itu sama jenisnya, ataupun (apalagi) yang berbeda jenis kelamin. Di lain pihak, dalam ilmu kedokteran tidak ditemukan adanya manfaat keperawanan dari sisi kesehatan. Maka, hanya alasan yang sangat darurat dan mendesaklah yang dapat membolehkan operasi selaput dara ini.


C. Sikap Dokter Menghadapi Masalah Tersebut
Jika seorang dokter bisa mengetahui penyebab sobeknya selaput dara seorang gadis, maka dia harus memecahkan masalahnya, yang mana hukumnya didasarkan untuk mencari kemaslahatan yang lebih besar. Akan tetapi, kebanyakan dokter tidak dapat mengetahui penyebabnya dengan perasangka yang kuat.

Maka dari itu, sebelum melaksanakan oprasi dia harus mencari tahu dulu sebab-sebab kesobekannya. Jika penyebabnya tidak diketahui dan belum ditemukan jalan yang memudahkannya, maka ia tidak harus membuktikan prasangka itu akan tetapi cukup dengan zhahirnya saja.

Pendapat Al-Mawrdi bahwa “Prasangka disina adalah prasangka buruk kepada seorang muslim tanpa mengetahuinya dengan yakin”, Nabi bersabda : “Tiga hal yang tidak boleh ada pada umatku : mengadu nasib, dengki dan prasangka buruk”, dan beliau juga bersabda :


“Jika kamu dengki, maka bacalah istighfar, jika kamu berprasangka janganlah dibuktikan, dan jika kamu mengadu nasib maka tinggalkanlah!”.

Berdasarkan sabda Nabi di atas, perintah ini mengharuskan orang mukmin agar menghentikan prasangkanya dan jangan sampai dia berupaya untuk mencari-cari aib tersebut hingga aib yang disangkakan itu tersingkap.

Berdasarkan hal ini, maka seorang dokter jika didatangi oleh seorang gadis yang memintanya untuk memperbaiki selaput daranya yang sobek, agar membawanya kepada sesuatu yang membawa kebaikan, dan dia harus menganggap bahwa apa yang terjadi padanya bukan disebabkan karena berbuat maksiat serta tidak berusaha mencari-cari sebab kesobekannya melebihi tanda-tanda yang terlihat, dserta dia juga tidak boleh berdiri di atas prasangka buruknya.

Pintu prasangka dalam masalah ini lebih luas daripada nilai keburukannya, dalam surat Al-Hujurat Allah melarang untuk berprasangka buruk meskipun prasangka tersebut tidak mengakibatkan hukum apapun. Akan tetapi, kebanyakan hukum perbuatan dalam syari’at didasarkan pada prasangka yang kuat dan tidak ada seorang pun yang mengingkari bolehnya berprasangka seperti ini, kecuali sekelompok orang pembuat bid’ah dimana mereka mengingkari ibadah kepada Alllah dan bolehnya ibadah itu dilaksanakan bila hanya didasarkan pada prasangka.

Selama sobeknya keperawanan seorang gadis masih menimbulkan pertanyaaan yang dapat menumbuhkan prasangka bahwa dia berbuat maksiat, maka prasangka dalam hal ini tidak masuk dalam kategori prasangka yang dilarang di dalam ayat di atas. Adapun prasangka ada dua macam :

1. Prasangka yang didasarkan pada bukti-bukti syari’at dan inilah prasangka yang tidak termasuk dalam larangan ayat Al-Qur’an itu, pelakunya tidak tercela, dan ia tidak mendapatkan beban hukuman apapun.

2. Prasangka yang tidak berdasarkan dalil yang diakui oleh syari’at, dan prasangka inilah yang dilarang oleh syari’at.

Dengan demikian, maka prasangka dokter yang didasarkan pada tanda-tanda yang bathil termasuk prasangka yang dilarang sehingga harus ditinggalkan. Az-Zuhri meriwayatkan, bahwa seorang lelaki menikahi seorang gadis namun dia tidak mendapati keperawanannya kerena haid yang berkepanjangan telah merusak selaput daranya. Maka Aisyah r.a mengirim seorang utusan kepada lelaki tersebut untuk meyakinkan bahwa haid yang berkepanjangan telah merusak keperawanannnya.

Dari sisi lain, bahwa hukum asalnya adalah praduga tak bersalah. Jadi, barang siapa berada pada posisi ini maka kedudukannya sangat kuat dan tidak bisa dilemahkan kecuali oleh hujjah syari’atnya, tidak dilemahkan oleh sekedar prasangka, tuduhan atau bukti yang tidak diakui oleh syari’at.

Jika seperti itu hukum asalnya, maka pada dasarnya si gadis itu bebas dari zina. Sehingga ia tidak dilemahkan oleh sobeknya selaput dara, karena hal bukanlah bukti syara. Jadi, gadis itu harus dibawa kepada posisi dasarnya, yaitu bebas dari tanggungan dan pengakuannya dijadikan pegangan selama tidak ada bukti lai yang dibenarkan syari’at. Atas dasar itu semua, maka hukum pengembalian selaput dara yang tidak diketahui penyebabnya oleh dokter harus dikembalikan kepada hukum yang bukan karena berbuat maksiat, melainkan karena kecelakaan, jatuh dan sebagainya.


D. Hukumnya
Pendapat ulama berkenaan dengan masalah ini dan memilih pendapat yang terkuat.
Pendapat pertama: Tidak dibolehkan mengoperasi selaput dara hingga seperti sedia kala.
Pendapat kedua: Masalah ini perlu diperinci sebagai berikut:

1. Jika terkoyaknya selaput dara disebabkan perbuatan yang dianggap dosa oleh syariat,yaituperbuatanzina,makaperludilihat:
jika berat dugaan bahwa si wanita itu akan menemui kesulitan dan gangguan disebabkan adat dan kebudayaan setempat maka operasi selaput dara mesti dilakukan.

2. Jika dokter tidak memandangnya sebagai problem yang serius maka pelaksanaan opersaiselaputdarahanyasebatasanjuransaja.
jika terkoyaknya selaput dara disebabkan hubungan seksual setelah terikat dalam tali perkawinan seperti pada wanita yang tertalak atau disebabkan perbuatan zina yang sudah masyhur di tengah masyarakat maka operasi selaput dara haram dilakukan.

3. Jika sebabnya adalah perbuatan zina yang tidak masyhur di tengah masyarakat dan dokter dihadapkan kepada dua pilihan antara melakukan operasi selaput dara ataukah tidak, maka yang terbaik adalah tetap melakukan operasi.



Sisi-sisiperbedaanpendapat:
Perbedaan pendapat ini dapat kita simpulkan sebagai berikut:
Pada kondisi kedua, kedua pendapat tersebut sepakat atas haramnya operasi selaput dara. Sementara pada kondisi pertama dan ketiga kedua pendapat tersebut saling berbeda.
Argumentasiyangdibawakankeduabelahpihak:

Argumentasi kelompok pertama (yang sama sekali tidak membolehkan operasi selaput dara):

Pertama: Operasi selaput dara dapat menimbulkan tercampur baurnya garis keturunan. Boleh jadi si wanita itu telah hamil akibat persetubuhan sebelumnya kemudian setelah melakukan operasi selaput dara ia menikah dengan pria lain. Hal itu menyebabkan janin yang dikandungnya dinasabkan kepada suaminya yang terakhir sehingga tercampurlah yanghalaldenganyangharam.

Kedua: Operasi selaput dara menyebabkan aurat vitalnya terlihat.

Ketiga: Operasi selaput dara memudahkan muda-mudi melakukan perbuatan dosa (zina) karena mereka tahu bahwa selaput dara dapat kembali seperti sedia kala selepas bersetubuh.

Keempat: Bilamana berbenturan antara maslahat dan mafsadat maka yang kita pilih adalah meraih maslahat tanpa menimbulkan mafsadat. Itulah yang terbaik. Bilamana hal itu tidak mungkin diwujudkan maka jika mafsadat yang timbul lebih besar daripada maslahat yang hendak diraih hendaklah mendahulukan menolak mafsadat tanpa harus mempertimbangkan maslahat yang luput, sebagaimana yang ditetapkan oleh para ahli fiqh.

Berdasarkan kaidah di atas, jika kita lihat besarnya mafsadat yang ditimbulkan operasi selaput dara ini maka dapatlah kita putuskan bahwa tidak boleh melakukan operasi selaputdarakarenamafsadatyangditimbulkannyasangatbesar.
Kelima: Salah satu kaidah syariat menyatakan: "kemudharatan tidak boleh dihilangkan dengan kemudharatan pula" diantara cabang kaidah ini adalah "Tidak dibolehkan mengelakkan kerugian tanahnya dengan merugikan tanah orang lain" demikian pula seorang pemudi atau ibunya tidak boleh mengelakkan mudharat (koyaknya selaput dara) dengan melakukan operasi selaput dara dan menimpakan mudharatnya kepada suaminya.
Keenam: Dasar-dasar melakukan operasi selaput dara dianggap tidak syar'i, karena mengandung unsur penipuan. Dan syariat telah mengharamkan penipuan.
Ketujuh: Operasi selaput dara membuka pintu dusta bagi pemuda-pemudi dan bagi keluarga mereka dengan menyembunyikan hakikat sebenarnya. Dan syariat telah mengharamkandusta.

Kedelapan: Operasi selaput dara membuka pintu bagi para dokter untuk melakukan praktek aborsi dengan alasan menyembunyikan aib.

Argumentasikelompokkedua:

Pertama: Nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah menganjurkan kita supaya menutup aib. Operasi selaput dara adalah salah satu jalan yang dapat mewujudkan hal itu pada kondisi-kondisiyangdibolehkansebagaimanayangtelahdiuraidiatas.

Kedua: Bagi wanita yang tidak bersalah (tidak melakukan perbuatan dosa), dengan operasi selaput dara itu berarti telah menepis anggapan jelek terhadap dirinya. Dan hal itu termasuk mencegah kezhaliman atas dirinya. Dan juga sebagai realisasi nash-nash syar'i yang memandang perlu berbaik sangka kepada kaum mukminin dan mukminah.
Ketiga: Operasi selaput dara dapat menghilangkan mudharat atas keluarga si wanita. Jika si wanita dibiarkan tanpa di operasi lalu diketahui oleh pihak suami tentunya akan merugikan dirinya dan keluarganya. Jika berita tersebut tersebar ke mana-mana maka orang-orang nantinya enggan menikahi wanita dari keluarga mereka. Oleh sebab itu, mereka dianjurkan menghilangkan mudharat itu karena mereka sendiri terlepas dari faktor-faktorpenyebabnya.

Keempat: Tindakan para dokter muslim yang menepis indikasi-indikasi negatif bahwa wanita telah berbuat dosa merupakan salah satu pengajaran umum bagi masyarakat, khususnyaberkaitandenganpsikologisiwanitaitu.

Kelima: Unsur penipuan tidaklah ada pada proses operasi selaput dara untuk kondisi-kondisi yang dibolehkan yang telah kita sebutkan di atas.

E. Dalil
Setelah dilakukan penelitian intensif melalui literatur-literatur fiqh, penulis menemukan bahwa ulama kontemporer berbeda pendapat dalam menyikapi masalah ini. Dalam hal ini terdapat dua pendapat:

Pendapat Pertama:
Operasi pengembalian keperawanan yang rusak dilarang secara mutlak. Pendapat ini dikemukakan oleh Muhammad al-Mukhtar Asy-Syanqithiy.

Ia mengungkapkan dalil-dalil sebagai berikut berikut:
1. Operasi seperti ini terkadang dapat menimbulkan percampuran nasab. Hal ini juga memungkinkan seorang wanita yang melakukan zina kemudian menikah kembali dengan lelaki lain setelah melakukan operasi, sehingga anak yang ada dalam kandungan dinasabkan kepada suaminya yang kedua. Perbuatan semacam ini adalah haram. Karena itu, segala sesuatu yang dapat mengarah kepada yang haram, hukumnya adalah haram sesuai dengan kaidah sad adz-dzari’ah.

2. Operasi seperti ini akan memudahkan atau membuka peluang para gadis remaja untuk melakukan perzinaan, karena obat untuk mencegah kehamilan akibat persetubuhan dapat ditemukan dengan mudah di toko-toko obat atau apotik-apotik terdekat. Hubungan intim baik sah maupun tidak sah pada hakekatnya dapat merusak selaput clitoris wanita, akan tetapi hal itu dapat dikembalikan melalui operasi. Operasi seperti ini hukumnya adalah haram. Oleh karena itu, para dokter dilarang mempraktekkan operasi semacam ini.

3. Operasi ini dapat membuka jalan bagi para gadis dan keluarganya berbohong dengan maksud menyembunyikan penyebab hilang dan rusaknya keperawanan mereka. Sedangkan berbohong hukumnya haram dan apapun yang mengarah kepada hal yang haram hukumnya adalah haram.

4. Operasi dalam bentuk semacam ini akan membuka kebohongan, penipuan dan pemalsuan yang diharamkan oleh agama. Keharamannya merupakan kesepakatan ulama (ijma’).

Pendapat Kedua:
Operasi pengembalian keperawanan yang rusak diperbolehkan dalam kondisi-kondisi tertentu sebagai berikut:
Jika isteri atau wanita yang melakukan operasi ini mendapatkan izin dari suaminya, dan ia hadir bersamanya ketika operasi berlangsung.

1. Jika selaput perawan telah rusak sejak lahir atau rusak karena perbuatan seseorang yang bukan perbuatan maksiat, seperti mengobati penyakit yang ada dalam selaput sehingga terjadi kerusakan, atau robek akibat penyiksaan, pemaksaan dan pemerkosaan.

2. Jika kerusakan yang disebabkan perzinaan belum diketahui umum. Namun jika telah tersebar, baik karena keputusan mahkamah maupun orang itu sudah dikenal sebagai wanita pezina (WTS), maka ulama sepakat mengharamkan operasi tersebut. Karena yang demikian itu akan mengakibatkan banyak kemudharatan.


Kelompok ini mengungkapkan dalil-dalil sebagai berikut:
1. Operasi pengembalian keperawanan yang rusak merupakan salah satu cara untuk menyembunyikan aib wanita tersebut. Karena jika aib itu tersebar di kalangan masyarakat umum, maka wanita itu akan dipermainkan, dicemooh dan dikucilkan, sekalipun ia tidak melakukannya. Aib tersebut bukan hanya untuk dirinya, melainkan juga untuk semua keluarganya. Karena itu, menyembunyikan aib orang lain adalah disyariatkan dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang hamba menyembunyikan aib saudaranya di dunia, melainkan Allah SWT akan menyembunyikan aibnya di akhirat”. Nabi SAW berkata pada Hazzal, -dia adalah orang yang mengetahui peristiwa perzinaan yang dilakukan oleh Ma’iz, “Jika engkau menyembunyikannya dengan pakaianmu, maka itu lebih baik untukmu”.

2. Operasi ini akan melindungi keluarga dari kehancuran rumah tangga. Karena jika hal tersebut diketahui oleh suaminya, maka akan terjadi perselisihan yang berdampak pada hilangnya rasa percaya antara keduanya dan suami akan menuduh pasangannya telah melakukan serong. Karena itu, operasi ini boleh dilakukan jika dengan tujuan menghindari terjadinya kehancuran rumah tangga.

3. Hilangnya keperawanan seseorang wanita dapat menimbulkan prasangka buruk terhadap dirinya, meskipun ia belum tentu melakukannya, karena hilangnya keperawanan seseorang itu dapat terjadi karena bermacam-macam hal. Oleh karena itu, diperbolehkan operasi tersebut merupakan sarana (washilah) untuk menghindari prasangkan buruk tersebut. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa”. (QS. Al-Hujarat:12)

4. Menurut ulama fiqh, tersebarnya informasi bahwa seseorang wanita telah hilang keperawanannya tidak langsung mengindikasikan bahwa wanita itu melakukan zina. Hal tersebut bisa saja terjadi karena faktor-faktor lain. Karena itu, zina dapat ditetapkan dengan tiga hal: pengakuan, saksi, bukti hamil di luar nikah atau hamil setelah dicerai atau setelah ditinggal mati suaminya dan selesai masa iddahnya. Berdasarkan hal di atas, maka pendapat yang memperbolehkan operasi ini dilakukan merupakan upaya untuk menghindari wanita dari tuduhan melakukan zina.

5. Sebagian masyarakat langsung memvonis wanita yang rusak keperawanannya meskipun tanpa bukti yang jelas, yang sebenarnya dari sisi agama ia tidak dihukum. Namun petaka ini berpotensi merusak kehidupan rumah tangganya atau mungkin dapat menyebabkan wanita tersebut hidup menjadi perawan tua, karena tidak ada seorang laki-laki pun yang mau meminangnya sehingga jiwanya akan terguncang. Maka melakukan operasi dalam kondisi ini adalah untuk melindunginya dari tuduhan-tuduhan masyarakat yang tidak berdasarkan syari’at.

6. Upaya pengobatan guna mengembalikan keperawanan wanita yang melakukan zina dan perbuatannya belum tersebar diharapkan dapat menyembunyikan aib mereka serta memotivasi mereka untuk bertaubat dan menyesali perbuatan yang telah dilakukannya, dan Allah akan mengampuni dosanya. Namun jika ia tetap melakukannya tanpa pernah merasa berdosa di hadapan Allah, maka semuanya kita serahkan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk selalu menyembunyikan aib orang lain agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap orang lain. Dalam sebuah pepatah dikatakan “kemaksiatan jika disembunyikan tidak akan membahayakan kecuali bagi pelakunya sendiri, namun apabila tersebar dan tidak seorang pun membantahnya, maka akan membahayakan masyarakat secara umum”. Oleh karena itu, setiap muslim diharapkan menutup kesalahan serta tidak membawanya ke pengadilan apabila ia tidak dapat dibuktikan secara syar’i, agar ia tidak tercium oleh masyarakat sehingga akan membuat mereka langsung bereaksi. Demikian itu akan menjadi musibah besar bagi masyarakat. Melakukan operasi dengan tujuan melindungi pelakunya dari sanksi sosial memiliki relevensi dengan agama.


Dalil Pendapat Pertama
1. “Operasi pengembalian keperawanan yang rusak dapat menimbulkan percampuran nasab” tidak dapat diterima. Hal ini karena kemungkinan apakah wanita tersebut hamil atau tidak hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan air seni atau darah yang dilakukan oleh dokter.

2. “Melakukan operasi keperawanan dapat membuat wanita berani melakukan zina” adalah pendapat keliru. Alasannya, wanita yang keperawanannya rusak terkadang adalah wanita shalihah yang taat kepada Allah SWT. Melarang mereka untuk melakukan operasi akan membuat diri mereka merasa terzalimi. Selain itu, mereka juga merasa bahwa kehormatan mereka dalam masyarakat telah hilang. Hal itu besar kemungkinan dapat menyebabkan mereka masuk ke dalam lembah perzinaan. Kondisi ini akan membuat mereka merasa takut untuk menikah karena khawatir kondisinya akan diketahui oleh laki-laki yang akan menikahinya sehingga akhirnya ia lebih memilih untuk melakukan hubungan seks di luar nikah daripada harus menikah. Jadi, mengizinkan mereka untuk melakukan operasi adalah diperbolehkan.

3. “Operasi keperawanan merupakan tindakan penipuan dan pemalsuan” adalah pendapat yang tidak dapat diterima. Karena tindakan pemalsuan dan penipuan terjadi apabila hal yang disembunyikan itu dapat membahayakan atau merugikan pelakunya jika diketahui cacatnya. Sedangkan operasi semacam ini tidak akan merugikan siapa pun yang akan menikahinya. Operasi seperti ini sama seperti operasi mengembalikan pendengaran atau penglihatan yang telah hilang. Jadi, perbuatan seperti ini tidak mengandung unsur penipuan atau pemalsuan.

Dalil Pendapat Kedua
1. “Menghalalkan operasi seperti ini merupakan upaya preventif yang sering dilakukan oleh sebagian masyarakat yang menghadapi problema seperti ini” adalah pendapat yang keliru. Tradisi sebagian masyarakat tidak dapat dijadikan landasan hukum, karena ada beberapa masyarakat yang tidak menganut sistem ini. Oleh karena itu, hukum harus dibangun atas landasan universal. Komentar penulis : Melakukan sad adz-dzari’ah (tindakan preventif) dalam semua kondisi tidak selalu disyaratkan pada sarana yang dapat mengantarkan kepada perbuatan haram saja, karena ia boleh dicegah dalam kondisi hukum tertentu, seperti keharaman menjual anggur bagi yang berniat menjadikannya sebagai khamar sekalipun tidak semua pembelinya menggunakannya untuk hal tersebut.

2. Memperbolehkan operasi semacam itu bagi pelaku zina yang belum diketahui oleh masyarakat umum dan belum diajukan ke pengadilan adalah berbahaya. Kemudian pendapat yang mengatakan bahwa syariat menganjurkan kita untuk menyembunyikan aib (maksiat) seperti dalam hadis Maiz di atas adalah benar. Namun pada zaman sekarang ini, menyembunyikan aib yang menjadi rahasia umum dala masyarakat seperti perbuatan zina serta melakukan operasi mengembalikan keperawanan tidak akan dapat menghambat derasnya perzinaan dan membuat pelakunya bertobat. Karena itu, membiarkan wanita tersebut tetap dalam kondisinya dan melarang untuk melakukan operasi agar ia berani menanggung resiko perbuatan yang telah ia lakukan, mau menyadari kesalahan serta dapat menjadi contoh bagi wanita-wanita lain, merupakan pendapat yang lebih tepat.

Pendapat Paling Kuat
Setelah melalui perdebatan panjang di kalangan para ulama kontemporer dengan berbagai macam argumentasi mengenai hukum melakukan operasi mengembalikan keperawanan, maka penulis lebih cenderung memilih pendapat yang mengatakan bahwa melakukan operasi pengembalian keperawanan wanita boleh dilakukan dengan syarat antara lain: virginitas wanita itu hilang dalam peristiwa tertentu atau disebabkan oleh perbuatan yang bukan maksiat, seperti jatuh, tertabrak, teraniaya, atau diperkosa. Menurut penulis, pendapat ini memiliki dalil-dalil yang lebih kuat dan masuk akal.


Adapun melakukan operasi bagi wanita yang keperawanannya rusak karena zina, baik yang sudah diketahui umum maupun yang telah diajukan ke pengadilan, adalah dilarang. Hal itu dikhawatirkan akan berdampak pada wanita-wanita lain yang kondisinya sama, sehingga dengan mudah mereka dapat melakukan perbuatan zina kembali.

Kaidah Fiqh
Dalam masalah kontemporer di atas, terdapat satu kaidah fiqh yang dapat kita ambil yaitu kaidah keempat :


“Kemudharatan itu harus dihilangkan”
Arti dari kaidah ini menunjukan bahwa kemudharatan itu telah terjadi dan akan terjadi, apabila demikian wajib untuk dihilangkan.
Dasar dai kaidah ini adalah firman Allah dan hadist Nabi :

“Dan janganlah kamu sekalian membuat kerusakan di bumi”


“Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang membuat kerusakan”
Sabda Nabi :


“Tidak boleh membuat kemudharatan pada diri sendiri dan membuat kemudharatan pada orang lain”
Serta firman Allah :

“Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya”


Kaidah ini membatasi kemutlakan kaidah :
Yang membolehkan seseorang menempuh jalan yang semula haram, itu adalah kondisi yang memaksa. Manakala keadaannya sudah normal, maka hukum akan kembali menurut statusnya. Oleh sebab itu wajar syara’ memberi batas di dalam mempergunakan kemudahan karena darurat itu, menurut ukuran daruratnya semata-mata untuk melapaskan diri dari bahaya.

Jadi, kesimpulannya menurut kaidah fiqh apabila dikaitkan dengan masalah di atas adalah oprasi selaput dara dapat di lakukan apabila sobeknya tersebut karena bukan perbuatan zina. Apabila tidak melakukan oprasi si wanita akan menemui kesulitan, gangguan dan fitnah yang disebabkan adat dan kebudayaan setempat maka oprasi selaput dara harus dilakukan. Sedangkan yang tidak boleh dilakukan adalah melakukan oprasi selaput dara akibat perbuatan zina, yang akan mengakibatkan kemudharatan berlanjut.

Argumentasi :
selaput dara seringkali menjadi topik pembicaraan yang hangat dan menimbulkan pro-kontra. Sayangnya, pembicaraan mengenai selaput dara dan keperawanan ini seringkali tidak disertai dengan pemahaman yang benar karena masih sangat terpaku pada mitos-mitos.

Berikut adalah beberapa mitos mengenai selaput dara :
Mitos: setiap perempuan dilahirkan dengan memiliki selaput dara.

Fakta: ternyata tidak. Tidak semua perempuan lahir dengan selaput dara pada vaginanya. Penelitian menunjukkan bahwa beberapa bayi perempuan lahir tanpa selaput dara.

Mitos: selaput dara bentuknya sama pada setiap perempuan, seperti selaput tipis tanpa lubang.

Fakta: salah besar. Seperti juga manusia memiliki wajah yang berbeda, demikian juga selaput dara. Selaput dara memiliki lubang atau pori yang bentuknya bervariasi. Lubang pada selaput dara dapat bertambah lebar setelah seorang perempuan mengalami menstruasi yang pertama kali.

Mitos: operasi pemulihan selaput dara sangat diperlukan bagi perempuan yang akan menikah tetapi selaput daranya sudah tidak utuh lagi.
Fakta: operasi pemulihan selaput dara memang selalu menimbulkan pro dan kontra. Sebetulnya apabila semua orang sudah memiliki pemahaman tentang selaput dara seperti yang dijelaskan di atas, operasi sama sekali tidak diperlukan.

Jadi, menurut penulis oprasi selaput dara tidak perlu di lakukan jika adat dan istiadat masyarakat tidak lagi mementingkan sobeknya selaput dara pada malam pengantin. Karena bisa saja bukan perbuatan zina ataupun bentuk selaput tersebut berbeda-beda sehingga seorang wanita tidak dapat memastikan seperti apa bentuknya, sehingga dalam dirinya terdapat perasaan takut yang teramat sangat jika dia menikah. Lain halnya jika sobeknya karena perbuatan zina, itu bisa di anggap penipuan kepada suami karena si wanita telah melakukan hubungan suami istri sebelum menikah kemudian melakukan oprasi selaput dara untuk menutupi aibnya. Inilah yang dilarang oleh syari’at.





DAFTAR PUSTAKA


 Soekanto, Soejono, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta : Raja Grafindo Persada
 Yasin, Muhammad Nu’aim, 2006, Fiqh Kedokteran, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, Cet.3
 Mudjib, Abdul, 1996, Kaidah-Kaidah Ilmu Fiqh, Jakarta : Kalam Mulia, Cet. 2
 www.grandparagon.com
 An-Najah, Ahmad Zain, www.ahmadzain.com
 Hasbi, Rusli, www.ruslihasbi.wordpress.com
 Lodaya, www.lodaya.web.id
 Akaha, Abduh Zulfidar, www.abduhzulfidar.multiply.com
 Al-Munajid, Syeikh Muhammad Sholih, www.islam-qa.com

1 komentar:

  1. gw rasa sih tuh cowo2 yang merit cuman karena cewenya masih perawan layak ditipu just for wanting this. a man who treating a woman like an object, doesnt deserve any better.

    BalasHapus